Sabtu, 14 Februari 2009

MENANGANI ANAK HIPERAKTIF DI KELAS

Oleh Iim Imandala, S.Pd.


“Aduh anak ini ga bisa duduk diam di bangku, jalan-jalan terus” Demikian sedikit keluhan dari seorang guru kelas satu SD (Sekolah Dasar) yang mengeluhkan anak didiknya karena anak itu jalan-jalan terus di kelas. Akibat tidak bisa duduk diam banyak tugas-tugas belajarnya tidak selesai atau tidak dikerjakan. Teman-temannya pun menganggap ia anak nakal dan pemalas.

Perilaku yang digambarkan di atas merupakan sedikit contoh dari perilaku anak hiperaktif. Sebagai guru kita harus waspada terhadap gangguan perilaku hiperaktif itu. Mewaspadai perilaku hiperaktif ini menjadi penting karena perilaku hiperaktif jika tidak diwaspadai dan tidak ditangani dengan tepat maka akan merugikan/mengganggu lingkungan belajar juga merugikan diri anak itu sendiri.

Agar lebih waspada kita kenali terlebih dahulu karakteristik anak hiperaktif. Berdasarkan kajian dari berbagai ahli anak hiperaktif memiliki tiga karakteristik utama, yaitu (1) rentang perhatian yang kurang sehingga anak mudah lupa, tugas tidak tuntas, cenderung menghindari tugas, sulit mencurahkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain (2) memiliki perilaku impulsif yang menyebabkan anak ini sulit diterima temannya karena sering merebut barang miliki orang lain/temannya, sering memotong pembicaraan, banyak bicara, mengganggu teman (3) selalu bergerak sulit untuk duduk diam/tenang memperhatikan, aktivitas motorik yang berlebihan, sulit mengatur kegiatan.

Berdasarkan karakteristik di atas maka jika di kelas terdapat anak hiperaktif dapat dibayangkan bahwa anak itu akan menjadi gangguan dalam proses belajar mengajar, sementara guru sendiri sudah cukup sibuk untuk memperhatikan anak-anak lain. Kesibukan guru akan semakin bertambah dengan hadirnya anak hiperaktif yang membutuhkan perhatian atau bimbingan yang lebih dari guru. Namun demikian sebagai guru yang baik tentunya akan mencari solusi terbaik untuk mengatasi gangguan perilaku hiperaktif pada anak didiknya.

Melalui tulisan ini, penulis ingin berbagi sedikit pengalaman dalam menangani anak hiperaktif. Untuk menangani perilaku hiperaktif, penanganan harus dil;akukan secara bertahap dan fokus pada gangguan yang akan dikurangi/dihilangkan atau perilaku mana yang akan dikembangkan.
Untuk memulai langkah penanganan, kita harus mencatat perilaku mana yang akan dihilangkan dan perilaku mana yang akan dikembangkan. Dari mana kita mendapat data tentang perilaku itu, bisa kita peroleh melalui pengamatan terhadap perilaku anak di kelas selain itu dapat pula diperoleh melalui wawancara dengan orangtua anak. Setelah mencatat dan mengelompokkan perilaku yang akan dihilangkan/dikurangi dan perilaku yang akan dikembangkan, selanjutnya dapat dilakukan teknik-teknik penanganan yang penulis aplikasikan berdasarkan Sugiarmin (2005) berikut ini.

1. Menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki

Carilah faktor pemicu dari perilaku yang tidak dikehendaki itu muncul. Contoh anak tidak bisa duduk diam sering jalan-jalan di kelas. Carilah alasan mengapa anak itu tidak bisa duduk diam. Misal, alasannya karena anak membutuhkan perhatian, merasa bosan, ingin udara segar, dan sebagainya. Hilangkan atau atasi faktor pemicu tersebut.

Cara menghilangkan factor pemicu dapat dilakukan melalui teknik-teknik (a) ekstingsi, yaitu tidak merespon tingkah laku yang tidak dikehendaki sampai anak menghentikannya. Contoh, guru mengabaikan siswa yang berbicara tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu. Atau guru dan teman-temannya mengabaikan anak yang mengganggu sampai ia bosan atau sadar bahwa guru dan temannya tidak terpancing (b) satiasi, yaitu memberikan apa yang anak inginkan sebelum menuntutnya. Contohnya, memberikan perhatian sebelum menuntut perhatian, segera beralih pada kegiatan lain sebelum anak merasa bosan, anak yang suka memukul-mukul meja mintalah anak tersebut untuk terus memukul meja (c) time out. Anak dipindahkan dari tempat di mana tingkah laku yang tidak dikehendaki terjadi (d) hukuman. Cara ini jarang diterapkan karena khawatir dampak negatifnya, namun jika akan diterapkan maka perlu memperhatikan hal-hal berikut ini:
- diberlakukan untuk perilaku yang sangat membahayakan dan agar tidak berlanjut misalnya perilaku agresif,
- jika prosedur lain tidak berhasil,
- berikan hukuman ringan yang terbukti efektif
- jangan menghukum dalam keadaan marah

2. Mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki

Tingkah laku yang baik tentunya harus dipertahankan dan dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Untuk melakukannya dapat dilakukan dengan cara penguatan (reinforcement). Setiap perilaku yang dikehendaki akan memperoleh penguatan berupa imbalan. Imbalan dapat berupa benda atau yang lain, misalnya pujian.

Ketika anak berbuat benar kemudian diperkuat dengan imbalan, diharapkan anak akan mempertahankannya untuk selanjutnya dapat dikembangkan. Imbalan atau hadiah sebaiknya diberikan segera setelah perilaku yang dikehendaki terjadi.
Demikian sedikit teknik-teknik penanganan anak hiperaktif di kelas. Pilihlah teknik yang paling tepat sesuai dengan perilaku yang akan ditangani. Semoga bermanfaat.

Penulis adalah guru SLB B-C Roudhotul Jannah (ROJA) Katapang Gugus 37 Kab. Bandung

PENGAJARAN MENULIS (HANDWRITING)

Oleh Iim Imandala, S.Pd.*

Menulis merupakan bagian dari alat komunikasi. Melalui tulisan kita dapat menyampaikan pesan, pemikiran atau gagasan-gagasan yang ingin kita sampaikan kepada orang lain sehingga orang lain mengerti apa yang kita maksud atau inginkan. Di dalam aktivitas menulis terjadi suatu proses yang rumit karena di dalamnya melibatkan berbagai modalitas, mencakup gerakan tangan, lengan, jari, mata, koordinasi, pengalaman belajar, dan kognisi, semua modalitas itu bekerja secara terintegrasi. Oleh karena itu pelajaran menulis terasa begitu berat dan melelahkan. Tidak jarang anak yang baru belajar menulis menolak untuk menulis banyak-banyak atau bahkan ada juga anak yangh kesulitan dalam belajar menulis.

Menurut Lovitt (1989 dalam Sunardi dan Sugiarmin 2001) menyatakan bahwa pelajaran menulis mencakup tiga aspek, yaitu (1) menulis dengan tangan, (2) mengeja, (2) dan menulis ekspresif atau komposisi. Namun yang akan dibahas disini adalah pengajaran menulis pada aspek menulis dengan tangan (handwriting).

Pengajaran menulis dengan tangan (handwriting) sering disebut pula dengan pengajaran menulis permulaan. Di dalam menulis permulaan dipengaruhi berbagai faktor kematangan atau kesiapan, yaitu faktor (1) motorik, (2) perilaku ketika menulis, (3) persepsi, (4) memori, (5) kemampuan cross modal, (6) penggunaan tangan dominan (kidal atau bukan), (7) kemampuan memahami instruksi (Lerner, 1985; Sunardi dan Sugiarmin, 2001). Sebelum anak belajar dan mampu menulis huruf maka faktor-faktor kesiapan tersebut harus dimatangkan terlebih dahulu, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan dalam motorik, persepsi dan kognitif.

Di bawah ini akan dijelaskan aktivitas menulis permulaan atau menulis dengan tangan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang mengalami hambatan motorik, persepsi dan kognitif.

Strategi Pengajaran Menulis Permulaan

A. Aktivitas kesiapan menulis permulaan

1. Membiasakan memegang alat tulis

- Mewarnai dengan menggunakan kuas. Ukuran gagang kuas digradasikan mulai dari kuas yang bergagang besar sampai yang terkecil. Dalam proses mewanai ini menekankan pada pembiasaan bukan pada hasil mewarnainya.

- Mencorat-coret dengan spidol besar.

- Menggambar dengan kapur tulis

- Mewarnai dengan pensil warna yang gagangnya berbentuk segitiga.

- Bagi anak yang sulit untuk memegang alat tulis karena ada hambatan pada motorik jarinya maka dapat menggunakan alat bantu khusus, dimana alat tulis dapat terikat pada genggaman anak.

2. Finger painting. Dalam aktifitas ini dapat digunakan berbagai media dan warna, dapat menggunakan tepung kanji, adonan kue, pasir dan sebagainya. Aktifitas ini penting dilakukan sebab akan memberikan sensai pada jari sehingga dapat merasakan kontrol gerakan jarinya dan membentuk konsep gerak membuat huruf.

3. Menggunting. Latihan menggunting dapat mengembangkan kemampuan motorik halus jari tangan, koordinasi mata-tangan, keseimbangan, persepsi visual dan konsentrasi. Langkah pertama dalam latihan menggunting adalah anak diperkenalkan dengan cara kerja gunting. Sebagai awal gunakanlah gunting yang gagangnya ringan dan mudah dibuka-tutu. Awalnya anak boleh mengggunakan kedua tangannya untuk memegang gagang gunting. Kedua, ajarkan anak menggunting di antara dua garis lurus. Setelah mahir menggunting diantara dua garis lurus kemudian tingkatkan dengan garis zig-zag, melengkung dan melingkar. Ketiga, tahap mahir, yaitu anak menggunting bebas tetapi rapih. Perlu diperhatikan bagi anak yang mengalami hambatan motorik sehingga tidak bisa mengkoordinasikan tangannya untuk memegang kerta sambil menggunting maka ujung kertasnya diisolatif pada meja. Bagi yang sama sekali tidak dapat menggunakan gunting maka aktifitas merobek dapat menjadi pilihan.

4. Menulis di udara. Anak-anak diajak beraktifitas menulis atau menggambar sesuatu di udara dengan tanpa menggunakan media dan alat tulis. Anak mengacungkan telunjuknya kemudian mulailah gerakkan-gerakan menulis atau menggambar sesuatu di udara dengan telunjuk itu.

5. Melipat. Ajarkan anak melipat kertas mulai dari satu kali lipatan sampai pada lipatan yang rumit. Lebih menarik lagi jika melipat kertasnya membentu sesuatu.

6. Menempel. Aktifitas menempel dapat membantu sensasi perabaan dan koordinasi mata-tangan.

7. Menggambar/menulis di atas media bertekstur.

8. Membuka dan memasangkan mur/baut.

B. Kesiapan menulis huruf

1. Menarik gari. Anak diarahkan untuk melakukan aktifitas menarik garis lurus, lengkung, dan melinggkar. Pada awalnya arah tarikan garis tidak ditentukan, selanjutnya jika sudah terbiasa menarik garis tersebut, mulai diarahkan mulai menarik garis dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.

2. Membuat bentuk-bentuk bangun datar, persegi, segitiga, dan lingkaran.

3. Menjiplak bentuk-bentuk huruf.

4. Menelusuri garis (tracing).

5. Menyambungkan titik untuk membentuk huruf.

6. Membuat huruf pada buku berpetak besar

7. Membuat huruf pada buku garis tiga

Demikianlah sekilas tentang pengajaran menulis dengan tangan (handwriting). Semoga uraian yang singkat ini bermanfaat dan dapat memberikan inspirasi untuk kita semua. Selamat mencoba.

*Penulis adalah guru SLB Roudhotul Zannah dan Pendiri SkilSkul Kids Center Bandung

GAMES FOR AUTISM

By Iim Imandala, S.Pd.*

Children with autism have communication and social skill problem. Some of them can’t talk and difficulties to express themselves trough speak. They express what desire with tantrum or crying without say something. It make terrible for parents and the others to know what they want to.

In social skill, children with autism, withdrawn and so hard to make interaction with peers or the other people. These problem affect to language and independent development.

We can’t insist autism child to speak or to make social interaction, but we just give them chance to communicate or to socialized. The chance come from play game.

Trough playing game ensure space for every children to improve many skills, include autism children. Gameloft and Nordenhof (2007:7) found playing is so vital in children’s social development, we were surprised that playing can improve social, communication, academic, and another skill children with autism. They will meet various stimulation when they playing game in groups.

We describe here some example game which improve social and communication skill children with autism.

1. Putting In

Materials : basket and bricks

Players : two players

The first child put a brick into basket then push the basket to second child. The second child put a new brick into the basket and push the basket to the first child, and so on. Game is over when all the bricks put in to the basket.

To be continued…

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates